Atasi Kelangkaan Data Status Hiu dan Pari, KKP Kerja Sama Riset Perikanan dengan James Cook University

BRSDM KP, JAKARTA (22/5) – Salah satu kendala pada pengelolaan dan konservasi hiu dan pari, yang IUCN (International Union for Conservation of Nature) memasukkan 249 spesies Chondrichthyes termasuk di dalamnya jenis hiu dan pari dalam kategori terancam, adalah tingginya tangkapan hiu dan pari sebagai tangkapan, baik sampingan maupun utama. Permasalahan ini semakin kompleks dengan minimnya data yang dapat digunakan untuk mengkaji status konservasi dari spesies hiu dan pari tersebut.

“Terbatasnya mata pencaharian alternatif bagi nelayan, ini salah satu yang mendorong penangkapan hiu dan pari. Meningkatnya populasi, ditambah lagi keterbatasan belum adanya pendataan status hiu dan pari yang sistematis, signifikan untuk pengelolaan dan konservasi sumber daya hiu dan pari. Ini menjadi latar belakang kerja sama kami dengan James Cook University”, demikian keterangan Kepala Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Toni Ruchimat, saat menyaksikan penandatanganan Implementing Arrangement dengan James Cook University (JCU) pekan lalu di Kantor BRSDMKP, Ancol - Jakarta.

Perjanjian kerja sama ditandatangani oleh Kepala Balai Riset Pemulihan Sumber Daya Ikan (BRPSDI), Jatiluhur, Joni Haryadi, dan Prof. Colin Simpfendorfer, Director Centre for Sustainable Tropical Fisheries and Aquaculture (CSTF&A) JCU.

“Pendataan hiu dan pari dalam kemitraan ini menggunakan Baited Remote Underwater Video (BRUV), kamera video bawah air yang diberi umpan. Data yang diperoleh menjadi analisa bahan untuk mengkaji status konservasi hiu dan pari yang berasosiasi dengan terumbu karang di perairan Indonesia. Rencananya kerjasama ini akan dilaksanakan selama 2 tahun hingga tahun 2019”, ujar Joni saat ditemui usai acara.

”BRUV merupakan salah satu metode inovatif dan memiliki validasi yang bisa dipertanggung jawabkan. Lebih utama lagi alat ini tidak bersifat merusak,” lanjut Joni.

Selain BRUV, environmental DNA (eDNA) juga akan digunakan untuk mempelajari spesies-spesies langka. Bermodal sampel air, keberadaan spesies langka dapat diketahui seperti sawfish yang sangat sulit ditemukan sampel hidupnya. Idenya adalah setiap makhluk hidup akan meninggalkan DNA baik dari mucus, ekskresi atau sekresi yang dilakukan. Metode PCR yang berkembang pesat memudahkan analisis DNA dilakukan untuk keperluan pencocokan DNA.

 

 

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) Zulficar Mochtar, dalam kesempatan terpisah memberikan apresiasi dan akan menindaklanjuti kerjasama pengkajian status hiu dan pari ini. “Kerjasama ini sejalan dengan payung kerjasama Indonesia – Australia di bidang perikanan tahun 2010 (Indonesia – Australia Fisheries Cooperation), yakni peningkatan pengelolaan perikanan, konservasi dan penelitian serta melanjutkan pelatihan dan program pengembangan kapasitas”.

”Ini sinergi riset yang strategis mengingat peran Indonesia diperhitungkan dalam upaya konservasi di tingkat regional dan internasional,” lanjut Zulficar.

“Kita kawal riset bersama ini memberikan manfaat terhadap pengembangan kapasitas peneliti dan penelitian, memperbaharui informasi mengenai status hiu dan pari di Indonesia termasuk didalamnya mengkaji indikator kesehatan terumbu karang”, pesan Zulficar kepada tim riset.

Colin pada kesempatan penandatanganan juga menyampaikan kuliah umum dengan tema Status dan Konservasi Elasmobranch di Perairan Indo-Pasifik, “Hiu dan pari merupakan jenis ikan dalam kelas Chondrichthyes (bertulang rawan) termasuk didalamnya Chimaera (lebih dikenal sebagai Ghost Shark). Kelas ini memiliki keanekaragaman yang sangat tinggi (~1150) hampir per 2 (dua) minggu ditemukan spesies baru. Perairan coral triangle merupakan salah satu lokasi dengan biodiversitas Chondrichthyes yang sangat tinggi, (51-140 species)”.

“Analisa data BRUV hiu dan pari di Indonesia ini nantinya akan menjadi bagian dari data status konservasi hiu dan pari di seluruh dunia,” lanjut Colin.

Pada paparannya Colin menyampaikan bahwan perhatian global meningkat terhadap ancaman terhadap hiu dan pari, yang sekitar 25% dari total species Chondrichthyes dinyatakan terancam oleh IUCN. Hal yang menarik adalah lebih banyak pari yang terancam punah dibandingkan hiu (59%). Sebut saja sawfish atau ikan gergaji yang dihargai sangat mahal untuk rostrumnya baik sebagai koleksi atau penolak sihir. Tresher shark (hiu tikus) yang merupakan bycatch utama dari perikanan rawai tuna pun tak luput dari ancaman kepunahan.

Colin lebih lanjut juga menguraikan dalam konservasi hiu dan pari, pemahaman mengenai aspek sosial-ekonomi dibutuhkan untuk memberikan gambaran utuh mengenai latar belakang pemanfaatan sumber daya tersebut, apakah dilatari keuntungan pasar, mata pencaharian atau ketahanan pangan. "Hampir setengah lebih hiu dan pari yang terancam punah dikarenakan data yang sangat terbatas" ujar Colin terkait pentingnya data status hiu dan pari.

Colin yang juga Co-chair IUCN shark specialist group juga menjelaskan pemanfaatan teknologi telemetri untuk mempelajari pola distribusi dan migrasi ikan bertulang rawan ini, “Informasi mengenai migrasi dan distribusi sangat penting untuk pengelolaan dan konservasi, seperti penetapan lokasi perlindungan untuk habitat kritis untuk pemijahan. Selain itu, dapat diketahui kemungkinan sharing stock beberapa jenis hiu”.

 

 

“Hasil kajian menunjukkan beberapa jenis hiu di Perairan Indonesia dan Australia merupakan satu stock yang sama. Sehingga perlu kolaborasi untuk pengelolaannya. Informasi ini juga penting khususnya dalam penyusunan Non Detrimental Findings (NDF), yakni kajian untuk mengijinkan perdagangkan spesies yang masuk dalam list appendix II CITES dengan syarat manajemen dan konservasi yang baik bagi spesies tersebut”, lanjut Colin.

Kepedulian generasi muda juga menjadi perhatian dalam pengelolaan dan konservasi hiu dan pari, “Katakan TIDAK untuk konsumsi produk hiu. Berkampanye tentang konservasi hiu dan pari di lingkungan sekitar juga menjadi salah satu langkah nyata yang perlu diapresiasi, dikembangan dan ditularkan”, tutup Colin mengakhiri kuliah umum.