FITA UNTUK AKUAKULTUR BERKELANJUTAN

Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan (Puslitbangkan) selenggarakan Forum Inovasi Teknologi Akuakultur (FITA) 2016 bahas perkembangan teknologi akuakultur terbaru yang ramah lingkungan pada 25-26 April 2016 di Surabaya.

“FITA merupakan ajang untuk membuktikan seberapa realistis, manfaat, hasil-hasil inovasi riset yang kita lakukan apakah sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta dapat diadopsi oleh masyarakat, industri, dan pemerintah daerah” kata Kepala Balitbang KP, M.Zulficar dalam sambutannya.

“Produk yang dihasilkan oleh penelitian harus dapat menjawab berbagai permasalahan akuakultur di masyarakat, untuk dapat mewujudkan Indonesia sebagai poros pangan dunia” tambah Zulficar.

Ka. Balitbang KP juga menyatakan bahwa kajian-kajian yang dilakukan harus bisa membantu memperkuat, membangun Indonesia sebagai center of excellence di bidang akuakultur yang tetap sinkron dengan stakeholders.

FITA 2016 dihadiri oleh para peneliti, perekayasa dan akademisi lingkup akuakultur dalam dan luar negeri. Dengan tema Inovasi Teknologi Akuakultur Dalam Mendukung Kedaulatan Pangan dan Keberlanjutan Usaha Budidaya Menuju Masyarakat Perikanan Sejahtera ” diharapkan mampu menjadi sebuah ajang penyebarluasan hasil penelitian dan berbagi informasi tentang perkembangan produk dan teknologi perikanan berkelanjutan yang dikemas dalam bentuk seminar hasil penelitian.

Didukung oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Jawa Timur serta Universitas Airlangga, FITA menghadirkan Profesor Patrick Surgeloos dengan paparan “New Microbial Management Techniques for Improved Aquaculture Outputs at Hatchery and Growout Stages” dan Dr. Farshad Shishehchian dengan paparan “Science Behind Shrimp Farming” yang diharapkan mampu memperkaya sudut pandang baru penelitian dan pengembangan akuakultur berkelanjutan di Indonesia.

Menurut data terakhir Food and Agricultural Organization (FAO) 2013 (1), Indonesia menempati posisi ketiga dunia dalam produksi akuakultur, setelah Tiongkok dan India. Sebagai salah satu produsen tertinggi dunia dalam akuakultur, profitabilitas jangka panjang tidak dapat diperoleh jika tanggung jawab atas kelestarian lingkungan diabaikan. Tingginya perhatian Ibu Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pada kedaulatan perikanan yang berbasis kelestarian lingkungan tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bahwa Pembangunan kelautan dan perikanan lima tahun kedepan diarahkan untuk memenuhi tiga pilar yang saling terintegrasi, yakni kedaulatan (sovereignty), keberlanjutan (sustainability), dan kemakmuran (prosperity). 

Dalam FITA 2016 dilakukan juga penandatanganan kerja sama penelitian dan pengembangan antara Balitbang KP dengan para stakeholders sebanyak dua Kesepakatan Bersama (KB) dan sembilan Perjanjian Kerja Sama (PKS).

FITA 2016 juga dilaksanakan dalam rangka mendukung Asia Pacific Aquaculture (APA) 2016 yang berlangsung pada 26-29 April 2016 di Surabaya. Terpilih sebagai Presiden APA adalah Dr. Endhay Kusnendar yang merupakan Perekayasa Utama Balitbang KP. APA 2016 merupakan ajang pertemuan para penggiat akuakultur di kawasan Asia Pasifik. Pertemuan APA 2016 akan dihadiri lebih dari 40 negara yang akan mengikuti sesi industri, sesi teknis dan pameran.

 

Surabaya 26 April 2016

 

 

M. Zulficar Mochtar

Kepala Balitbang KP

 

Narasumber: Prof. Dr. Hari Eko Irianto, Kepala Puslitbangkan Telp. (021) 64700928 Twitter: @hariekoirianto

(1)    ftp://ftp.fao.org/FI/STAT/summary/a-0a.pdf

 

DATA DUKUNG:

  1. Kesepakatan Bersama antara Balitbang KP dengan Universitas Dayanu Ikhsanuddin, Bau-Bau;
  2. Kesepakatan Bersama antara Balitbang KP dengan PemKab. Gorontalo;
  3. Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut (BBPPBL) dengan Dinas KP Prop. Jawa Barat;
  4. PKS antara  BBPPBL dengan Dinas KP Kota Bontang dan PT Badak NGL;
  5. PKS antara BBPPBL dengan Dinas KP Kab. Belitung Timur;
  6. PKS antara Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau  dengan Dinas KP Kab. Kotabaru;
  7. PKS antara BPPBAP dengan Fakultas Kelautan dan Perikanan,  Univ. Dayanu Ikhsanuddin;
  8. PKS antara Balai Penelitian Pemulihan Konservasi Sumberdaya Ikan (BP2KSI) dengan Dinas Perikanan Kab. Kapuas Hulu;
  9. PKS antara Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar (BPPBAT) dengan Dinas Perikanan Kab. Kapuas Hulu;  
  10. PKS antara BPPBIH dengan Dinas Perikanan Kapuas Hulu.