SIARAN PERS NOMOR.07.BALITBANGKP/III/2015

UDANG GALAH DAN PADI UNTUK KEDAULATAN PANGAN

“Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali galakkan program Minapadi yang dipadu dengan budidaya udang galah dengan mengoptimalkan fungsi lahan sawah irigasi. UGADI (Udang Galah Bersama Padi) merupakan pengembangan dari MINA PADI yang lebih dulu diperkenalkan ke masyarakat.  UGADI merupakan salah satu langkah guna meminimalisasi alih fungsi lahan padi. Seperti sudah banyak diketahui bahwa banyak lahan padi yang berubah fungsi dan menggerus lahan sawah yang mengancam kedaulatan pangan nasional. Dengan metode ini diharapkan alih fungsi lahan sawah dapat berkurang dan dapat meningkatkan produktivitas pembudidaya serta mewujudkan kedaulatan pangan nasional”. Kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP), Achmad Poernomo dalam kegiatan tebar benih udang galah GI Macro II pada UGADI di Dusun Ngelo, Desa Harjibinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta pada Kamis (12/3).

“Budidaya udang galah yang terintegrasi bersama padi di lahan persawahan yang sama merupakan bentuk pemanfaatan secara nyata dari keterbatasan lahan, serta meningkatkan produksi perikanan. Udang galah yang ditanam bersama padi diharapkan sebagai agen pengendalian hayati yang mengendalikan serangga hama dan gulma di lahan persawahan dengan tujuan utama untuk menambah hasil panen berupa udang galah” tambah Achmad.

Balitbang KP melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya (P4B) bekerjasama dengan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman, melakukan kegiatan IPTEKMAS (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Masyarakat) atau Model Penerapan Iptek Budidaya Udang Galah GI Macro II Bersama Padi di Kabupaten Sleman. Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara P4B dan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman akan disaksikan langsung oleh Gubernur D.I. Yogyakarta pada tanggal 12 Maret 2015. Kegiatan penandatangan PKS juga akan disertai dengan kegiatan bimbingan teknis budidaya UGADI dan penebaran perdana benih udang galah GI Macro II di sawah.

“Udang galah dipilih dalam program ini karena memiliki toleransi lingkungan yang luas. Udang galah mampu tumbuh baik di air tawar sampai air bersalinitas di bawah 15 ‰ serta memiliki toleransi yang luas terhadap suhu. Prinsip-prinsip dasar yang terlibat dalam pertanian terpadu adalah pemanfaatan efek sinergis dari kegiatan pertanian terpadu dan konservasi termasuk pemanfaatan penuh limbah pertanian. Hal ini didasarkan pada konsep bahwa "tidak ada limbah" dan limbah hanya sumber daya yang salah tempat yang dapat menjadi bahan berharga untuk produk lain. Melibatkan ikan ke dalam sistem persawahan memiliki sejumlah keunggulan, seperti membantu dalam meningkatkan hasil padi melalui pemangsaan serangga berbahaya, hama dan gulma dan meningkatkan kesuburan lahan dengan menambahkan bahan organik.  Hal ini mampu menghasilkan keuntungan persatuan luas lahan satu atau dua kali lipat. Budidaya udang bersama padi dapat digunakan sebagai alat bantu dalam Pengendalian Hama Terpadu (PHT) sebagai pengganti aplikasi insektisida yang tidak ekonomis.” Tutup Achmad

Program pemuliaan udang galah melalui seleksi individu pada karakter pertumbuhan yang dilakukan oleh Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi telah menghasilkan udang galah yang tumbuh lebih cepat baik pada fase pembenihan maupun pembesaran. Udang galah hasil seleksi ini juga sudah dinyatakan bebas dari virus MrNV.  Udang galah unggul tersebut kemudian diberi nama GI Macro II (Genetic Improvement of Macrobrachium rosenbergii II) dan dilepaskan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 23/KEPMEN-KP/2014 tentang Pelepasan Udang Galah GI Macro II.  Pengembangan udang galah GI Macro II tidak mensyaratkan teknologi khusus, dikarenakan proses pembentukannya dilakukan menggunakan prosedur pemuliaan secara konvesional yaitu seleksi individu.  Berdasarkan hal tersebut maka GI Macro II dapat dikembangkan oleh masyarakat secara luas, baik melalui budidaya sistem tradisional, semi intensif maupun intensif. Pemanfaatan benih udang galah unggul GI Macro II diharapkan dapat mendukung peningkatan produktivitas usaha budidaya udang galah nasional.

Budidaya ikan sebagai suatu kegiatan yang terintegrasi bersama dengan budidaya padi di lahan yang sama adalah merupakan hal penting sebagai bentuk pemanfaatan secara rasional dari sumberdaya lahan yang terbatas, serta mendukung berkelanjutan sumber protein ikan, memberikan penghasilan tambahan, dan penciptaan lapangan kerja. Terlepas dari keunggulan ini, komoditas perikanan bertindak sebagai agen pengendalian hayati, berpotensi mengendalikan serangga hama dan gulma.  Kelimpahan gulma di lahan sawah pada dasarnya terkait dengan persiapan lahan dan pengelolaan air.  Banyak spesies ikan memanfaatkan gulma sebagai pakan alami mereka dan sebagai akibatnya akan mengurangi biomas gulma di sawah. Komoditas perikanan akan mengurangi jumlah organisme bentik seperti, moluska ,cacing dan larva serangga serta biomassa gulma di sawah.

Kegiatan IPTEKMAS UGADI akan dilaksanakan di Kecamatan Pakem untuk pembudidaya yang tersebar di Desa Harjobinangun dan Desa Candibinangun atau anggota yang tersebar di 3 kelompok (Mina Ngelo Sembaka, Mina Ulam Asri dan Mina Muda Sambirembe. Sebelumnya Balitbang KP telah berhasil melaksanakan IPTEKMAS Budidaya Udang Galah di Desa Sendang Tirto, Kecamatan Berbah, Sleman, Yogyakarta pada 2011 lalu.

Yogyakarta, 12 Maret 2015

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan

Dr. Ir. Achmad Poernomo, M.App.Sc

Narasumber:

  1.     Dr. Ir. Achmad Poernomo, M.App.Sc

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan

  1.     Dr. Ir. Tri Heru Prihadi, M.Sc

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya

Telepon: (021)64711583 Faksimili: (021) 64711438